Jumat, 13 Maret 2015


SEJARAH KARINDING KLASIK (HINGGA 2010)

Oleh Kimung
Karinding konon alat musik yang telah digunakan karuhun Sunda sejak dahulu kala. Alat musik ini terbuat dari pelepah aren atau bambu berukuran 20 x 1 cm yang dibuat menjadi tiga bagian yaitu bagian tempat memegang karinding (pancepengan), jarum tempat keluarnya nada (disebut cecet ucing atau ekor kucing serta pembatas jarumnya, dan bagian ujung yang disebut panenggeul(pemukul). Jika bagian panenggeul ditabuh, maka bagian jarum akan bergetar dan ketika dirapatkan ke rongga mulut, maka akan menghasilkan bunyi yang khas. Bunyi tersebut bisa diatur tergantung bentuk rongga mulut, kedalaman resonansi, tutup buka kerongkongan, atau hembusan dan tarikan napas.
Jenis bahan dan jenis disain karinding menunjukan perbedaan usia, tempat, jenis kelamin pemakai. Karinding yang menyerupai susuk sanggul dibuat untuk perempuan, sedang yang laki-laki menggunakan pelapah kawung dengan ukuran lebih pendek, agar bisa disimpan di tempat tembakau. Bahan juga menunjukkan tempat pembuatan karinding. Di Priangan Timur, misalnya, karinding menggunakan bahan bambu. Di kawasan lain di Indonesia, karinding disebut jugarinding (Yogyakarta), genggong (Bali), dunga (Sulawesi), karindang (Kalimantan)atau alat sejenis dengan bahan baja bernama jawharp di kawasan Nepal dan Eropa dan chang di Cina dengan bahan kuningan. Selain ditabuh, karinding juga ada yang dimainkan dengan cara dicolek atau disintir. Klik link ini untuk mengetahui ratusan nama waditra sejenis karinidng yang tersebar di seluruh dunia…
Berikut adalah beberapa definisi karinding yang telah dirumuskan,
1.       Tim Penulisan Naskah Pengembangan Media Kebudayaan Jawa Barat (1977:75) menyebutkan, “karinding merupakan alat musik yang terbuat dari pelepah kawung atau bambu, cara memainkannya dipegang oleh tangan kiri, ditempelkan ke mulut. Dalam hal ini mulut sebagai resonator dan pengatur tinggi rendahnya nada. Pangkal karinding dekat mulut dipukul-pukul oleh jari tangan kanan untuk menggetarkan lidah getarnya (cecet ucing), sehingga terdengarlah suara alat musik tersebut.”
2.       Enoch Atmadibrata dkk (2006:114) menyebutkan, ”alat musik bernama karinding ini berbentuk lempenga kayu enau atau bambu yang dibentuk sedemikian rupa dengan cara mengiris bagain tengahnya sehigga terlihat menjulur seperti lidah, yang apabila dipukul akan bergetar dan menimbulkan suara. Untuk memperkeras dan mengatur tinggi rendahnya bunyi yang dihasilkan, yang diatur adalah rongga mulut yang berfungsi sebagai resonator.”
3.       R. A. Danadibrata (2006:322) menyebutkan, “Karinding ialah nama alat pukul yang terbut dari bahan mabu atau palapah kawung yang sangat tipis; karinding dibunyikan dengan cara ditempekan ke bibir atas dan bawah seperti argol (alat musik yang berbunyi bila ditiup dan dihisap sambil digeser-geser di antara bibir atas dan bawah seperti makan jagung, sama seperti karinding dan harmonica) dan suara yang dihasilkan dari hisapan dan hembusan rongga mulut; untuk menghasilkan tinggi rendahnya nada ketika karinding sedang bergetar lidah getarnya karena hisapan tau hembusan mulut, ujung karinding sebelah kanan dipukul pelan supaya bergetarnya cepat atau lambat.”
4.       Ensiklopedia Sunda menyebutkan, “Karinding adalah alat bunyi-bunyian dalam karawitan Sunda yang dibuat dari pelepah arena tau bambu, dibunyikan dengan pukulan jari tengah dengan rongga mulut sebagai resonator. Dahulu dipergunakan sebagai sarana hiburan para penggembala kerbau atau biri-biri di kampung-kampung. Di daerah Banten, karinding dipergunakan oleh remaja sebagai alat komunikasi waktu mencari kekasih. Alat ini dibunyikan di serambi rumah ketika sore hari saat bersantai setelah bekerja, para gadis yang mendengarnya biasanya mendekati para si penabuh alat itu.”
5.       Buku Khazanah Seni Pertunjukan Jawa Barat menyebutkan, “Karinding merupakan alat kesenian yang terbuat dari pohon enau atau bambu. alat ini bentuknya kecil namun bunyinya cukup nyaring. Selain nama alat, karinding juga merupakan nama seni pertunjukan yang menggunakan waditra karinding. Alat musik berupa karinding ini berbentuk lempengan kayu enau atau bambu yang dibentuk sedemikian rupa dengan cara mengiris bagian tengahnya sehingga terlihat menjulur seperti lidah. Apabila dipukul akan bergetar dan menimbulkan suara. Untuk memperkeras dan mengatur tinggi rendahnya bunyi yang dihasilkan, yang diatur adalah rongga mulutnya, yang berfungsi sebagai resonator.”
6.       Karinding memiliki dua alternatif bahan baku yaitu bambu dan pelepah pohon aren atau kayu enau. Di Tasikmalaya, penyebutan karinding hanya digunakan kepada karinding berbahan baku pelepah aren, sedangkan yang berbahan baku bambu disebut kareng. Saat ini penyebutkan kareng jarang ditemui, mungkin karena factor kebiasaan pelafalan nama “karinding”. Jaap Kunts dalam buku Music in Java menebutkan, “Tasik district the jew’s harp is called karinding only when cut from aren wood; when made from bamboo it is there called kareng,” Penggunaan bahan pelepah aren biasanya ada di Cianjur dan Tasikmalaya, sementara itu bahan bambu biasanya di Ciwidey, Bandung, Garut, dan Sumedang.
Peneliti karinding, Giar Gardan tahun 2012 dalam karya skripsinya berjudulKelompok Musik Karinding Attack di Bandung Jawa Barat, mencatat ada dua klasifikasi waditra karinding berdasarkan jenisnya, yaitu sebagai waditra jenisideophone dan aerophone.  Jenis aerophone adalah alat musik yang memiliki prinsip kerja hembusan udara, sementara jenis ideophone adalah ragam alat musik yang badannya sendiri merupakan sumber bunyinya. Karinding termasuk ke dalam jenis ideophone karena karinding dapat berbunyi ketika cecet ucingbergetar setelah ditabuh di bagian paneunggeulan. Semua bagian itu merupakan kesatuan dari badan karinding sendiri. Masuk ke dalam jenis aerophone karena karinding berbunyi menggunakan mulut sebagai resonator yang menghembuskan nafas sehingga pengaturan suara bisa dikendalikan lewat hembusan nafas. Prinsip pemikiran ini juga termuat dalam www.danmoi.com, “it is difficult to place the jew’s harp in the system of musical instruments. On the other hand it is classified as plucked idiophone, together with the musical clocks : the plucked part of the instrument sounds itself. On the other hand, the jew’s harp belongs to the aerophones.”
Sebagai ideophone, Curt Sach dan Hornbostel mengungkapkan karinding termasuk ke dalam waditra sejenis jew’s harp yang diklasifikasi ke dalam plucked ideophone atau ideophone yang bergetar dengan cara dipetik. Dalam plucked ideophone, terdapat kategori yang disebut lamellaphone, yakni waditra yang menggunakan lamella elastik dalam bentuk frame sebagai sumber bunyinya. Klasifikasi lainnya dicetuskan oleh David Reck yaitu sebagai linguaphone karena karinding menggunakan rongga mulut dan lidah sebagai sarana bunyinya.
Kehadiran karinding di masyarakat Sunda tak jauh dari kebudayaan agaris dan kedekatan mereka dengan kayu dan bambu. Dua bahan ini terutama dianggap sebagai tanaman yang memberikan manfaat pada wajah budaya Indonesia karena digunakan dalam kehidupan keseharian masyarakatnya dan bisa digunakan seluruh bagiannya. Bahan-bahan ini kemudian juga menjadi sumber daya yang melahirkan karya seni sebagai sarana pengantar upacara-upacara ritual, pergaulan, hiburan, pengungkapan nilai-nilai pandangan hidup, juga sebagai alat politik persahabatan antar bangsa. Beberapa sesepuh juga ada yang berpendapat, bentuk karinding yang dibuat para pembuat karinding awal terinspirasi dari alat bebunyian terbuat dari rumput berdaun lebar yang lazim dimainkan anak-anak gembala.
Sulit dilacak kapan pertama kali karinding hadir di masyarakat Sunda karena tak ada sumber tertulis yang meyebutkan secara pasti kapan waditra ini mulai ada. Satu tinjauan pernah dibuat Ragil Soeripto dan dimuat dalam Buletin Kebudayaan Jawa Barat, Kawit, tahun 1992, “Rachmat Ruchiyat berkesimpulan bahwa di samping berkembangnya musik bambu di Indonesia erat sekali kaitannya dengan perpindahan penduduk dari daratan Asia tahun 1000 SM, bahkan yang jauh sebelumnya (10.000 – 5.000 SM) sudah ada suku bangsa yang telah menetap juga dari daratan Asia yang sisa-sisanya antara lain di Irian Jaya ternyata memiliki berbagai alat musik dari bambu, antara lain menyerupai karinding (Pasundan) atau rinding atau genggong (Jawa Tengah dan Jawa Timur) atau Bali Ginggung.” Dari kutipan tersebut, waditra bambu sejenis karinding sebenarnya sudah hadir di Indonesia sejak 10.000 – 5.000 SM, namun tentang keberadaan karinding di tanah Pasundan, perlu tinjauan sejarah yang lebih khusus.”
Biasanya karinding itu dimainkan pada malam hari oleh orang-orang sambil menunggui ladangnya di hutan atau di bukit-bukit, saling bersautan antara bukit yang satu dan bukit lainnya. Alat ini ternyata bukan cuma menjadi pengusir sepi tapi juga ternyata berfungsi mengusir hama. Suara yang dihasilkan oleh karinding ternyata menghasilkan gelombang low decibel yang menyakitkan hama sehingga mereka menjauhi ladang pertanian.
Di kalangan para pemuda Tatar Sunda, karinding juga populer sebagai alat musik pergaulan. Dahulu, jika sang jejaka bertandang ke rumah sang gadis, ia akan mendemonstrasikan permainan karinding untuk memikat sang gadis. Dalam hal percintaan, karinding juga  berkembang dengan kisah-kisah romantis—dan juga tragis—di belakangnya.
KARINDING DALAM NASKAH PENDAKIAN SRI AJNYANA
Catatan tertua mengenai karinding terdapat dalam naskah Sunda berjudulPendakian Sri Ajnyana. Naskah ini terdapat dalam buku Tiga Pesona Sunda Kuna yang ditulis oleh J. Noorduyn dan A. Teeuw (Pustaka Jaya, 2009). Dalam naskah itu ditulis,
Hurung subang di hulueun - Kacapi di kajuaran - Kari(n)ding dip ago sanding -Giringsing di pagulingan - Deung ka(m)puh pamarungkutan
Artinya :
Giwang bercahaya di ujung kepala - Kecapi di dekat tempat tidur - Karinding dipago sanding (palang dada) - Giringsing di atas tempat tidur - Dan selimut
Naskah “Pendakian Sri Ajnyana” (PSA) terdiri atas 24 lempir. Tampaknya teks di dalamnya lengkap, termasuk kolofon singkat yang ,emyatakan bahwa naskah ini ditulis pada bulan ke delapan, di mandalan Beutung Pamaringinan (di) Cisanti. Mengenai ke dua naskah kropak yang pada mulanya terdapat dalam koleksi Perpustakaan Nasional di Jakarta, Noorduyn (1971:151-152) mengemukakan bahwa naskah tersebut adalah bagian dari, “himpunan kecil yang mencakup sekitar empat puluh naskah daun Sunda yang ditulis dengan pola suku kata yang kini dianggap sudah usang. Sebagian di antaranya mengangkat tema agama dan sastra zaman pra-Islam. Dalam abad lalu (maksudnya abad ke sembilan belas) naskah-naskah tersebut ditemukan di desa-desa pegunungan di Jawa Barat tempat naskah-naskah itu disimpan sebagai warisan keramat dari masa silam. Pada waktu itu, naskah-naskah itu tidak lagi menajdi bagian dari tradisi yang hidup karena tiada seorang pun yang dapat membacanya, apa lagi memahami isinya. Dalam naskah-naskah tersebut digunakan dua jenis aksara dan keduanya adalah anggota rumpun aksara yang berasal dri India, yang digunakan di berbagai wilayah di Indonesia. Salah satu di antaranya dituliskan khusus dengan tinta pada daun nipah dan berkaitan erat dengan jenis aksara Jawa Kuna yang juga dituliskan dengan tinta pada bahan yang sama. Jenis lainnya diterakan pada daun lontar dan memperlihatkan banyak keistimewaannya sendiri, yang membuktikan adanya perkembangan  khas Sunda. Tahap-tahap awal pemakaian aksara jenis ke dua ini diketahui dari beberapa prasasti di atas batu dan lempengan tembaga.”
Aksara jenis pertama yang dirujuk Noorduyn yang oleh para peneliti terdahulu disebut dengan “aksara Jawa Kuna yang hampir kwadrat”, disebut dengan “tipe aksara pra-nagari” oleh Darsa. Dia menyebutkan empat naskah yang ditulis dengan menggunakan jenis aksara tersebut (Darsa, 1997 : 14-15), pertama naskah Sunda Kuna Sang Hyang Hayu. Naskah ini diperoleh Museum Sri Baduga di Bandung dari Kecamatan Sukaraja, Tasikmalaya, tahun 1991 (no. 07.106), diumumkan dalam satu jilid bersama Serat Catur Bumi dengan judul Sang Hyang Raga Dewata (Tim Peneliti, 2000). Yang kedua adalah naskah tertua dalam bahasa Jawa Kuna Kuňjarakarna sebagaimana yang diumumkan pertama-tama oleh H. Kern (1922), kemudian oleh Van der Molen (1983). Naskah ke tiga adalah Serat Catur Bumi, juga berupa teks Jawa Kuna (Tim Peneliti, 2000). Sedangkan teks ke empat yang ditulis dengan aksara ini adalah Serat Děwabuda yang diumumkan oleh Ayatrohaědi (1988).
Jenis aksara ke dua yang dirujuh Noorduyn dimasukkan oleh Darsa ke dalam golongan “model aksara Sunda (kuna)”; aksara ini ditemukan dalam sejumlah prasasti (contohnya Kawali dan Batutulis), sebagaimana halnya yang terdapat dalam naskah yang teksnya memakai bahasa Sunda Kuna, misalnya ke tiga teks yang dimuat dalam buku ini, tapi juga dalam Sěwaka Darma (lihat Danasasmita dkk. 1987), Ratu Pakuan (lihat Atja 1970), Carita Parahyangan (lihat Darsa dan Ekajati 1995) dan sebagai contohnya yang paling mutakhir (dari awal abad ke delapan belas) adalah Carita Waruga Guru (Darsa 1997 : 16-20), beserta contoh-contoh dari nara sumber).
Mengenai titimangsa (waktu penulisan naskah), ketiga puisi Sunda Kuna terserbut hanya ada sedikit kepastian, mengingat ketiganya tidak mengandung kronogram atau petunjuk yang mencolok lainnya. sebegitu jauh hanya satu naskah Sunda Kuna yang ditelaah yang titimangsanya telah dipastikan, yaitu Sanghyang siksakanda ng karesian yang berasal dari tahun Śaka 1440 atau 1528 M (Atja dan Danasasmita 1981a). Namun, dalam ulasannya, Noorduyn (1971:152) mengatakan bahwa teks tersebut dalam bentuk yang kita miliki, mungkin berasal dari masa yang lebih muda. Bagaimanapun, titimangsa di sekitar abad keenambelas Masehi tampaknya merupakan anggapan meragukan  sehubungan dengan ketiga puisi kita, baik menyangkut naskahnya mau pun mengacu pada Islam (kecuali tiga, yakni kata dunia dan kertas dan nama tempat Meukah) juga menunjukkan bahwa titimangsanya tidak lebih muda daripada abad keenam belas. Dua di antara naskah-naskah Jawa Kuna yang disebutkan di atas memiliki titimangsa, Serat Děwabuda suntingan Ayatrohaědi (1988) bertitimangsa Śaka 1357 atau 1435 M. ada pun teks Sang Hyang Hayu (atau Sang Hyang Raja Děwata, Tim Peneliti, 2000) diakhiri dengan kronogram panca warna catur bumi – Śaka 1455 atau 1533 M).
Naskah Sri Ajnyana isinya berhubungan juga dengan Sewaka Darma dan jugaBujangga Manik sebagaimana yang Nampak dalam uraian Pigeaud (1967-70,III:384). Ia menyebutkan bahwa naskah itu berisi “catatan Jawa-Bali perihal rungan keagamaan, yaitu pelajaran yang disampaikan oleh Sidi Ajňańa kepada putranya Cita Rasa. Nama Sidi Ajňańa menarik perhatian karena ia mengingatkan orang kepada peran Sri Ajnyana dalam teks Sunda Kuna. Namun diperlukan kajian terperinci untuk meninjau seluk beluk kesusastraan ini, termasuk kepaduan dan berbagai pertautannya.Dalam bagian pendahuluan Sanghyang Ajnyana disebut-sebut dalam hubungannya dengan keadaan nirmateri (wisěsa ni niskala) yang tak terpermanai, teks ini berbicara tentang keindahan (lemlem?) daripaleksas Sanghyang Ajnyana; para penyuntingnya menerjemahkannya menjadi “permulaan Sang Hyang Tahu”; mungkin kita harus membacanya pawekas(“wejangan”), sebagaimana baris puisi berikut ini : tutur jati pawekasna Sang Hyang Ajnyana jati wisesa, iyana sari tutur jati, nyana jati nu wisesa, iyana nu mawa saka ning bayu, sabda hidep hawitan tu (bait 9); yang dapat diartikan “wejangan hakiki yang disampaikan oleh Sang Hyang Ajnyana, hakikat tak terperi yang membawa hawa, kata, dan pikir utama”.
Puisi Sri Ajnyana dimulai dengan sedu sedan wanita yang menyesal karena dia berbuat dosa besar. Dia diajak bicara oleh seseorang yang dipanggil Sri Ajnyana yang sedang berupaya melipur laranya. Dia menjelaskan bahwa mereka harus memupus dosa (yang tampaknya berupa hubungan seksual) dengan turun dari kahyangan ke ‘tengah dunia’ (kaintar diri ti sorga, turun ka madiapada, 40-41). Wanita itu bersedia mengikutinya ke mana pun Sri Ajnyana pergi, tetapi dia tidak lagi dilibatkan dalam jalan cerita yang untuk seterusnya berpusat pada Sri Ajnyana. Dengan perasaan yang amat berduka, dia meninggalkan arasnya di kahyangan.
Turunnya tokoh utama ke bumi, yang secara geografis bertempat di Gunung Damalung (Merbabu, Jawa Tengah) ditandai dengan berbagai gelagat (50-57). Proses menjadi manusia ini dengan segala hal yang tersirat di dalamnya dituturkan sedemikian kuatnya (58-95). Dalam monolog interieur (96-155) dia mencurahkan rasa dukanya dan mengungkapkan penyesalannya atas perbuatan pada masa lalu. Dia tahu bahwa  harus menanggung nasib yang berat, kecuali dia bisa menemukan  jalan untuk membebaskan  dirinya dari wujud duniawi.
Kemudian dia memutuskan untuk pergi ke pegunungan dan tiba di pertapaan, tempat ia bertemu dengan orang bijak (mahapandita 172) yang bersedia membantunya dalam keadaan menyiksa itu. Atas pertanyan orang besar itu, mengenai sebab musabab dia datang ke pertapaan itu, dia memohon diberi pengejaran mengenai ‘jalan keluar dari penderitaan, untuk kembali ke yang azali (atau hakikat, jati) dan meninggalkan jagat sublunar’ (179-183). Sang bijak menjelaskan  padanya bahwa manusia pada dasarnya pendosa dan dia harus menghindari segala hal yang sebenarnya sudah dia sadari; untuk menemukan pembebasan dia harus mencurahkan diri dalam laku tapa (185-220).
Setelah pengajaran selesai, tokoh utama tidak hanya merasa tertolong; dia menggambarkan keadaan batinnya dalam istilah-istilah yang ekstatis, ‘wejangan-wejangan itu masuk ke dalam ragaku, sejuk dan segar seperti air suci, menembus sanubariku dan menjalari pikiranku (ajnyana)’ (226-229). Ajaran sang guru ibarat ‘sebidang pekarangan yang tersapu bersih’ (243-244), metafor untuk kejelasan dan kemurnian, yang diulangi pada bagain lain dan dara ringan dan bahagia pada sang murid disimbolisasi dengan gemerlapnya bebungaan yang dia lihat sehingga pikirannya terpulihkan (245-247). Keindahan bebungaan melambangkan kebahagiaan dan keadaan pikiran langitan di sepanjang teks. Dalam monolog panjang lainnya (248-329) tokoh utama bertopang pada permenungan yang baru didapatkannya, yang diungkapkan dengan istilah-istilah sepetrti ‘inti pengetahuan, masalah mendasar tentang makna, permata kebenaran’ (281-284). Setelah menerima ‘buah’ pengajaran dari sang guru, tokoh utama siap untuk kembali ke kahyangan.
Akhirnya utusan bernama Dewa Laksana yang datang ke pertapaan itu dan mengundang Sri Ajnyana atas nama dewa-dewa untuk menghadiri pertemuan di kahyangan (347-352). Mereka pun berangkat, ’raga mereka bercahaya bagaikan kunang-kunang’ (359). Pertama-tama mereka melewati berbagai lapisan aras langitan, kemudian harus menyeberangi titian kencana yang mengarahkannya ke jalan menuju langit. Akhirnya mereka memanjat tangga kencana di istana (kadaton) Pancamirah (lima rubi, 404). Di situ para dewa sedang mengadakan pertemuan besar.
Pokok bahasan yang dibicarakan adalah kekacauan hidup umat manusia yang tampaknya sudah tidak tertanggungkan, sebab manusia melanggar semua hukum dan aturan dan dirasuki Dewa Kala (yakni dewa kehancuran) serta kawan setannya. Kritik atas perilaku manusia itu dirumuskan  secara eksplisit oleh Dewa Niskala katika ia berbicara untuk menggambarkan peran Kala yang jahat (buta Kala murka 438) bersama setan-setan yang penuh nafsu. Para dewa terganggu oleh kehidupan umat manusia yang terancam hancur.
Seusai pertemuan, tokoh utama meninjau keadaan kahyangan (464-535); pertama-tama ia mengunjungi empat kahyangan di empat wilayah, Timur, Selatan, Barat, dan Utara. Di Timur, Sri Ajnyana melihat tempat berdiam Dewa Isora (Iswara, perwujudan Siwa), yang disebut Jambudrasana, tempat tujuan seluruh pertapa sejati (486). Kahyangan selatan disebut Brahmaloka; kahyangan ini adalah tempat bagi ‘orang-orang melaksanakan janjinya dan orang-orang yang membakar dupa dan kayu bakar’; rinciannya juga disebut-sebut dalamKorawāśrama (Swellengrebel 1936 : 78-79). Kahyangan berikutnya yang dia kunjungi tak diberi nama, tetap letaknya ada di wilayah barat, tempat tujuan orang-orang yang memberikan bantuan amal (dana punya). Akhirnya, kahyangan utara disebut Utaraprada; inilah tempat tujuan para pahlawan perang setelah mereka mati. Tempat ini juga dikenal sebagai Aras Utara. Tidak ada nama dewa-dewa disebut sehubungan dengan dua kahyangan terakhir, namun deskripsi terperinci mengenai keempat aras menunjukkan paralelisme dasar, dengan sejumlah variasi, yaitu keempatnya memiliki bentuk měru, tetapi mengandung perbedaan sehubungan dengan bahan-bahan yang digunakan, sejmlah besar kain, permata, ukiran menghiasi bangunan itu.
Setelah melewati tempat itu Sri Ajnyana menyusuri ‘jalan raya yang lurus’ ke langit kencana, yang disebut sorga kancana dan bumi kancana (538-539). Jalan yang dibatasi barisan pepohonan dan perdu (540-548) dan melintasi bebatuan, danau-danau serta tebing-tebing, jembatan-jembatan, dari satu tangga ke lain tangga, itu baru saja disapu dan bekas sapuannya masih terlihat (556-558). Wewangian semerbak di sepanjang jalan, yang menarik para pengembara pada rupa-rupa bunga (565-593) yang di dalamnya disebutkan lebih dari tiga puluh lima nama tetumbuhan. Setelah Sri Ajnyana naik ke langit kencana, dia menggambarkan seluruh keindahan itu, dan sekali lagi menyebutkan banyak nama bunga (602-615). Jenis dan manfaat wewangian yang menyedapkan itu diperinci (616-625), tidak mengherankan jika bunga-bunga tersebut dan aromanya memikat segala jenis kumbang dan tawon yang berdengung-dengung sehingga menciptakan alunan suara beragam alat musik (625-645).
Setelah tiba di gedung kencana selutuh kata dikerahkan oleh tokoh utama untuk menggambarkan suasana yang cerlang cemerlang itu : tidak  kurang dari lima belas perumpamaan digunakan  untuk mengungkapkan  suasana itu (648-663). Tak pelak lagi kenangannya kembali ke masa lalu tatkala ia dikeluarkan dari kahyangan ini tempat sebelumnya ia hidup sedemikian bahagianya; dan seraya menitikkan air mata dia naik ke gedung kencana (682-683). Di situ ia bertemu dengan Puah Aci Kuning yang mengenakan busana indah. Wanita itu menyambutnya dengan ramah, menanyakan kabarnya dan alasan kekhawatiran serta bertanya adalah orang yang ingin ditemui Sri Ajnyana (710).
Dia bertanya masihkan Puah Aci Kembang tinggal di kahyangan, namun ia diberitahu jika wanta itu menghilang ke bumi dan tidak kembali. Dia pun diingatkan agar tidak memperhatikan wanita itu. dia harus bergabung dengan para penghuni langit. Puah Aci Kuning mempersilahkan Sri Ajnyana masuk dan duduk di dekatnya, sebab ada yang ingin ia sampaikan. Sri Ajnyana menolak karena ‘jangan-jangan ini akan menimbulkan akibat buruk’ (746-747). Namun wanita itu mengingatkan bahwa Sri Ajnyana tidak perlu khawatir. Sekali lagi, wanita itu mengingatkan bahwa Sri Ajnyana  jangan sampai dirintangi sosok cantik  di langit (754-764). Wanita itu pun bertanya kepada Sri Ajnyana mengapa umat manusia di jagat tengah begitu lalai menjalankan perintah agama, sampai-sampai tidak ada lagi orang yang mencapai kahyangan. Mereka semua diliputi dosa, membiarkan diri mereka terbuai oleh segala yang memperdaya dan tidak mau dijauhkan dari kekejian (766-786).
Kemudian Puah Aci Kuning membimbingnya ke gedung kencana; keindahan di dalamnya digambarkan dengan rincian yang bahkan lebih besar lagi jika dibandingkan dengan deskripsi sebelumnya mengenai keempat wilayah kahyangan itu (790-837). Ketika Puah Aci Kuning memintanya lagi untuk duduk di dekatnya di atas dipan, tapi Sri Ajnyana lagi-lagi menolak karena khawatir denga akibatnya. Wanita itu berkata bahwa ia hanya bermaksud menguji keteguhan moral Sri Ajnyana (860-861) yang telah menunaikan tugas dan janjinya akan selamanya beroleh pikiran jernih, sehingga niscaya dia akan kembali ke kahyangan. Puah Aci Kuning sendiri ingin menjadi teguh dalam penolakannya terhadap hasrat-hasrat duniawi (tunggal nitresna 883). Kemudian dia menasihati kembali Sri Ajnyana bahwa kejahatan melekat pada sifat dasar manusia dan hanya dengan mengikuti ajaran yang dapat membebaskan diri dari ketidaksucian dia dapat menghindari neraka dan menikmati berkah sunyi pikir (ajnyana sunia904). Di gerbang gedung kencana sang Puah inilah Sri Ajnyana melihat karinding, kacapi, giwang, dan selimut. Karinding terselip di dinding palang dada gedung kencana.
Sri Ajnyana kemudian beranjak dari situ, pergi melintasi berbagai kahyangan; dia melintasi keempat jagat (caturloka 919), kemudian jagat Meukah yang merupakan kahyangan Siak (buana Meukah 920). Dari situ dia sampai di kahyangan suci (sanghiang) Lengis. Nama beberapa penghuni jagat disebutkan : Manondari, istri Rawana tinggal di situ bersama Nilasita, istri Sugriwa yang suci, yang padanya kita mengenali Sugriwa, yakni tokoh lain yang secara menonjol hadir dalam cerita Rama Sunda Kuna. Kahyangan berikutnya disebut Sangkan Hěrang, mahligai Sanghiang Sri, yakni ‘perwujudan segala hal yang berkaitan dengan bumi (atau bersifat kebumian)’ (ngawakan kapretiwian 933). Setelah melewati tempat ini Sri Ajnyana tiba di Sari Dewata, yang tak dikenal sebagai nama langitan atau toponimi lain. nama penghuni tempat itu Wiru Mananggay, muncul dalam berbagai teks Sunda Kuna di Tatar Sunda masih dikenali sebagai ama dewi (pohaci, lihat Coolsma 1930 dan wiru sumanggay’ sesaji untuk dewi padi pada permulaan awal musim panen’, lihat Eringa 1984 : 842). Inilah mahligai wanita pertapa yang hidup selibat. Selanjutnya, ia tiba di Manarawang; nama ini terbentuk dari tarawang(artinya terang, terbuka, tembus pandang); penghuninya adalah Sanghiang Sri dan dewi Satiawati (Satyawati), tokoh yang disebutkan secara sukarela ikut mati bersama suaminya Salya di medan laga Mahabharata, atau Bharatayuda (běla). Inilah kahyangan untuk para wanita yang melakukan běla.
Setelah meninggalkan tempat-tempat di kahyangan itu, Sri Ajnyana melalui Budi Keling dan Rahina sada tiba di rahna Wengi (950-956). Nama Rahina Sada, ‘Siang Abadi”, sebelumnya muncul dalam bentuk perumpamaan (316). Di Rahina Wengi (‘Siang dan Malam’) di berjumpa dengan Puah Lakawati, yang memanggil Sri Ajnyana dengan nama ‘sang Atma Wisěsa’ (‘ruh terunggul’). Wanita itu menyambutnya dan menanyakan maksud kedatangannya. Ketika sang tamu bertanya tentang Puah Aci Kembang, ia mendapatkan jawaban yang sama dengan yang sebelumnya dia dapatkan di kahyangan, yang sebagian besar dengan kata-kata serupa (976-1004) : wanita itu sudah meninggalkan kahyangan, dia tidak perlu diperhatikan; Sri Ajnyana tidak perlu lagi terpesona olehnya dan harus ingat bahwa ‘tidak  ada penderitaan seberat menjadi manusia’ (1004). Puah Lakawati mengulangi wejangan yang sebelunya diterima Sri Ajnyana (1006-1061). Sri Ajnyana mesti menghindari segala pesona beragam bentuk keindahan dan kesenangan duniawi. Hanya dengan mengendalikan raga dan menahan segala hasrat dia akan merasa nyaman dan ringan; itulah yang dimaksud denga terbebas dari ketidaksempurnaan. Sri Ajnyana harus mengikuti ’lima cara suci’ (sanghiang pancamerga) untuk mendalami ‘rahasia bertapa’ (sandi tapa) dan mencari ‘inti pengetahuan’ (sari ning ajnyana) (1036-1038). Kemudian dia akan menemukan ‘langit tertinggi’ dan pada akhirnya ‘kembali ke azali’ serta mencapai ‘inti ketiadaan’ (jati tan hana 1057).
Setelah itu Atma Wisěsa sebagaimana kini ia disebut oleh pencerita pula, beranjak dari kahyangan dan turun ke jagat tengah untuk enuju ke pertapaan Mandala Singkal; di sini ia bertapa sehubungan dengan ajaran-ajaran yang telah ia dapatkan dari Puah Aci Kuning, Lakawati, Wiru Mananggay, singkatnya seluruh ajaran dari sosok-sosok langitan (1070-1083). Teks ini dipungkas dengan cara menjelaskan bahwa tiba-tiba seluruh dewa turun ke bumi untuk menjadi manusia, bergabung dengan  manusia dan berdiam di jagat tengah, yakni ‘Putera Bumi’ (nya puah tanah dunia 1087).
Setelah naskah Pendakian Sri Ajnyana, penulis belum lagi menemukan naskah lain yang menyebutkan karinding. Beberapa keterangan mengenai karinding terungkap melalui cerita lisan yang tersebar di seluruh Priangan dalam kisah yang berbeda-beda.

credit: kelaskarinding.tumblr.com/post/.../sejarah-karinding-klasik-hingga-2010

Belajar Bahasa Korea


Kosa Kata Dalam Kehidupan Sehari-hari
안녕하세요 annyeonghaseyo = salam (apa kabar, selamat pagi, siang, sore, malam)
안녕히 가세요 annyeonghi gaseyo = selamat jalan
안녕히 계세요 annyeonghi gyeseyo = selamat tinggal
안녕히 주무세요 annyeonghi chumuseyo = selamat tidur
잘자요 chal chayo = selamat tidur
축하해요 chukhahaeyo = selamat!
생일 축하해요 saengil chukhahaeyo = selamat ulang tahun
새해복 많이 받으세요 saehaebok manhi badeuseyo = selamat tahun baru
실례합니다 sillyehamnida = permisi
여보세요 yeoboseyo = hallo (telepon)
예/네 ye/ne = ya
아니오 anio = tidak
물론입니다 mullonimnida = tentu saja
감사합니다 gamsahamnida = terima kasih
고마워요 gomawoyo = terima kasih
천만에요 cheonmaneyo = sama-sama
미안해요 mianhaeyo = maaf
괜찮아요 gwaenchanayo = tidak apa-apa
알아요 arayo = tahu/mengerti
몰라요 mollayo = tidak tahu/tidak mengerti
만나서 반가워요 mannaseo bangawoyo = senang bertemu denganmu
어떻게 지내세요? eotteo'ke jinaeseyo? = bagaimana kabarnya?
잘 지내요 chal jinaeyo = kabar baik
안좋아요 anjo'ayo = tidak baik
어서 오세요 eoseo oseyo = selamat datang
들어오세요 deureooseyo = silahkan masuk
또 만나요 tto mannayo = sampai bertemu lagi
안돼요 andwaeyo = tidak boleh/jangan
하지마 hajima = jangan
그래요! geuraeyo! = begitu!
위험해! wiheomhae = bahaya!
어머나 eomeona = astaga
아마 ama = mungkin
거짓말 geojitmal = bohong
아이고 aigo = aduh
실망했어요 silmanghaesseoyo = saya kecewa
마음이 아파요 maeumi aphayo = sakit hati

Sinopsis Stand BY Me Doraemon


Stand By Me Doraemon

 Sinopsis Stand By Me Doraemon. Menjadi sebuah penantian tersendiri bagi para penggemar produk Jepang, baik penggemar film, manga, maupun anime. Pada Stand By Me Doraemon ini disajikan aksi yang mengharukan dan menarik. Ada yang mengatakan jika ini adalah episode terakhir doraemon.
         Stand By Me Doraemon. Kami kru intifilm akan menyajikan link download Stand By Me Doraemon melalui google Drive yang tidak perlu ribet dan dipenuhi oleh iklan, hal ini sesuai dengan request yang telah masuk melalui email kami. Namun, link download ini hanya sebatas versi short movie, yang sudah tersedia di youtube. Kami tidak menyediakan full version karna itu menyalahi aturan.
            Sinopsis Stand By Me Doraemon. Stand By Me Doraemon mendadak menjadi tranding topik sejak pertama kali rilis di bioskop tanah air sejak pada tanggal 10 Desember 2015. Setelah meyaksikan di bioskop, siapapun yang menyaksikan film ini, terutama penggemar berat Doraemon, pasti akan merasa terngiang-ngiang terfikirkan dengan beberapa adegan mengharukan yang menurut sebagian orang lebih mengena dibandingkan anime maupun manga lainnya.
        Hal tersebut bukan hal yang aneh, Stand By Me Doraemon memang bukan hanya sekedar potongan beberapa episode terbaik, namun lebih berfokus pada kisah cinta Nobita dan Shizuka, serta persahabatan antara Doraemon dan Nobita.
          Sinopsis Stand By Me Doraemon. Nah, jika anda penasaran. Intifilm akan membahas Sinopsis Stand By Me Doraemon sekaligus memberikan link Download Stand By Me Doraemon tentunya dengan subtitle Indonesia. Artikel Sinopsis ini berupa bocoran dan hanya ditulis oleh orang yang telah menyaksikannya.

Sinopsis Lengkap Stand By Me Doraemon

Nobita Berteriak di Padang Salju
            Sinopsis Stand By Me Doraemon. Momen paling mengharukan pertama dalam film Stand By Me Doraemon yang dirasa cukup 'keren' adalah pada saat Nobita kecil pergi ke masa depan setelah mengubah wujudnya menjadi orang dewasa.
            Saat itu, Nobita melihat dirinya di masa depan tidak hadir mendampingi Shizuka dewasa yang pergi mendaki gunung salju sendirian. Setelah Nobita kecil menemui Shizuka, ia pun mengalami kesulitan hingga akhirnya berteriak untuk mengirimkan ingatan bagi dirinya di masa depan.
Perpisahan Nobita dan Doraemon
            Sinopsis Stand By Me Doraemon. Momen kedua. Satu lagi adegan yang sangat mengharukan di film ini adalah ketika Doraemon terpaksa harus pergi ke masa depan. hal itu dikarenakan sang robot dianggap sukses membahagiakan Nobita kecil yang dipastikan akan menikahi Shizuka.
            Saat itu, Nobita yang meluapkan kegembiraan dengan menggunakan Baling-baling Bambu, disaksikan oleh Doraemon yang duduk sendirian di bawahnya. Sang robot kucing masa depan itu pun bergumam sendiri dengan mengucapkan kata-kata yang sangat mengharukan.
Nobita Menghadapi Giant
            Sinopsis Stand By Me Doraemon . Momen ke tiga. Ada satu momen dalam film ini ketika Nobita terpaksa harus bertarung melawan Giant tanpa bantuan alat Doraemon. Keinginan Nobita agar bisa mengalahkan Giant pun dirasa menjadi satu hal yang bisa membuat kita merinding.
          Pasalnya dalam adegan ini, kita bisa melihat bagaimana kegigihan Nobita yang tanpa menyerah, terus berdiri untuk menundukkan Giant. Hingga akhirnya, Giant pun kelabakan dibuatnya.
Perkataan Romantis Shizuka Kepada Nobita
            Sinopsis Stand By Me Doraemon . Kembali ke momen saat Nobita kecil menghampiri Shizuka dewasa di masa depan. Kala itu, keduanya meneduh di dalam sebuah gua, dan mereka bersama-sama menghangatkan diri.
                 Shizuka tak hentinya berbicara kepada Nobita kecil yang ia sangka adalah sosok dewasa di masanya. Akhirnya, Shizuka memberikan jawaban atas pertanyaan Nobita dewasa dengan satu kata, yaitu "Iya."
Pengorbanan Shizuka kepada Nobita
            Sinopsis Stand By Me Doraemon . Ketika berada di era saat ini, Nobita dan Shizuka kecil sempat memiliki hubungan buruk setelah Nobita merasa takkan mampu membahagiakan Shizuka. Nobita pun melakukan sebuah hal konyol demi bisa dibenci gadis impiannya itu.
        Oleh karena Shizuka sulit untuk membencinya, maka Nobita pun meminta Doraemon mengeluarkan alat yang membuat Shizuka tidak menyukainya. Alhasil, semua orang yang ada di dekat Nobita pun menjauhinya.
           Namun karena Nobita terlalu banyak mengkonsumsi obat tersebut, maka ia pun menjadi mabuk dan tidak kuat sendiri oleh efek sampingnya. Akan tetapi, ada satu orang yang bertekad untuk menyelamatkan Nobita... Ia adalah Shizuka!
            Demikianlah Sinopsis Stand By Me Doraemon yang menurut kami sangat romantis dan paling terngiang dikepala. 
Download Stand By Me Doraemon

Download Stand By Me Doraemon Short Movie Subtitle Indonesia
           Download Stand By Me Doraemon. Jika anda penasaran, silahkan download Stand By Me Doraemon tentunya dengan Subtitle Indonesia link dibawah ini. Link dibawah ini mengarah ke google drive tanpa adanya iklan yang ribet. Terimakasih kepada kalian yang telah memberikan saran kepada admin untuk merevie film ini, kami nantikan email dari kalian selanjutnya. Film ini hanya versi pendeknya saja, namun sudah cukup menggambarkan semua adegan menarik dalam film Stand By Me Doraemon.

Lirik Lagu Meghan Trainor - All About That Bass

Because you knowI'm all about that bassBout that bass, no trebleI'm all about that bassBout that bass, no trebleI'm all about that bassBout that bass, no trebleI'm all about that bassBout that bass
Yeah, it's pretty clear, I ain't no size twoBut I can shake it, shake itLike I'm supposed to doCause I got that boom boom that all the boys chaseAnd all the right junk in all the right places
I see the magazine, workin' that PhotoshopWe know that shit ain't realC'mon now, make it stopIf you got beauty beauty, just raise 'em upCause every inch of you is perfectFrom the bottom to the top
Yeah, my mama she told me don't worry about your sizeShe says boys like a little more booty to hold at nightYou know I won't be no stick figure silicone Barbie dollSo if that's what you're into then go ahead and move along
Because you know I'mAll about that bassBout that bass, no trebleI'm all about that bassBout that bass, no trebleI'm all about that bassBout that bass, no trebleI'm all about that bassBout that bassHey!
I'm bringing booty backGo ahead and tell them skinny bitches thatNo I'm just playing I know you think you're fatBut I'm here to tell yaEvery inch of you is perfect from the bottom to the top
Yeah my mama she told me don't worry about your sizeShe says boys like a little more booty to hold at nightYou know I won't be no stick figure silicone Barbie dollSo if that's what you're into then go ahead and move along
Because you know I'mAll about that bassBout that bass, no trebleI'm all about that bassBout that bass, no trebleI'm all about that bassBout that bass, no trebleI'm all about that bassBout that bass
Because you know I'mAll about that bassBout that bass, no trebleI'm all about that bassBout that bass, no trebleI'm all about that bassBout that bass, no trebleI'm all about that bassBout that bass
Because you know I'mAll about that bassBout that bass, no trebleI'm all about that bassBout that bass, no trebleI'm all about that bassBout that bass, no trebleI'm all about that bassBout that bassBout that bass, 'bout that bassHey, hey, oohYou know you like this bass
credit: kapanlagi.com

Biografi penulis

Hai hai..
Nama aku Shafina Adinda, biasa orang panggil afin/apin/shafina/shafin/shaf dsb. Aku tinggal di Taman Cibaduyut Indah, lumayan jauhlah kalo masuk kesananya wkwk.
Tahun ini aku akan menghadapi UN huaaa:((
kegiatanku selama menghadapi UN yaitu belajar belajar dan belajar /ceilah.
doain aku lulus UN  yaaa!!! aamiin..

Sinopsis Singkat Emergency Couple








Emergency couple menceritakan tentang sepasang suami istri yang menikah di usia muda ketika mereka masih kuliah kedokteran. Akan tetapi tidak lama setelah mereka menikah kemudian bercerai. Enam tahun kemudian, mereka berdua bertemu kembali sebagai dokter magang di rumah sakit yang sama..
Pertemuan Oh Jin Hee (Song Ji Hyo) dan Oh Chang Min (Choi Jin Hyuk) dimulai ketika Jin Hee yang bekerja sebagai ahli nutrisi bertemu dan jatuh cinta dengan Chang Min seorang mahasiswa kedokteran yang kaya serta semua keluarganya berprofesi sebagai dokter.. Mereka berdua akhirnya menikah walaupun keluarga Chang Min terutama ibunya menentang pernikahan mereka.. Chang Min kemudian berhenti kuliah kedokteran dan bekerja sebagai seorang sales obat. Pernikahan mereka tidaklah bahagia karena masalah perekonomian, selain itu ibu mertua Jin Hee terlalu ikut campur urusan rumah tangga mereka. Jin Hee dan Chang Min akhirnya memutuskan untuk bercerai..
Enam tahun kemudian Jin Hee dan Chang Min telah lulus sebagai seorang dokter. Yang lebih mengejutkan, mereka berdua ternyata sama2 menjadi dokter magang di rumah sakit yang sama. Mereka berdua harus bekerja sama menangani pasien di bagian emergency di bawah pengawasan dari dokter Gook Chun Soo (Lee Pil Mo) yang terkenal sangat pandai namun bertempramen buruk..
Ketika bekerja Jin Hee dan Chang Min selalu bersitegang, pada awalnya Chang Min berusaha untuk membuat Jin Hee dipecat. Namun pada suatu hari terjadi insiden yang membuat nyawa Chang Min dalam bahaya dan Jin Hee berusaha sekuat tenaga untuk menolong Chang Min sehingga dia selamat. Hal itu membuat Chang Min sedikit menyesal karena selalu berbuat kasar pada Jin Hee.. Selain itu, kedekatan antara Jin Hee dan dokter Gook membuat Chang Min merasa cemburu dan membuat Chang Min sadar jika dia masih mencintai Jin Hee dia pun berusaha untuk mencoba memperbaiki lagi hubungannya dengan Jin Hee..













Itu dia sedikit sinopsis dari emergency couple yang sekarang sedang banyak diminati dan memang ceritanya lucu banget bisa bikin ketawa sendiri liat tingkahnya Oh Chang Min yg uring2an liat mantan istrinya deket sama orang lain. drama ini emang kocak dan pas buat ngegalau. emang rekomen deh haha

Sistem Pencernaan


1. Pengertian Sistem Pencernaan Pada Manusia

Sistem pencernaan merupakan sistem yang memproses mengubah makanan dan menyerap sari makanan yang berupa nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Sistem pencernaan juga akan memecah molekul makanan yang kompleks menjadi molekul yang sederhana dengan bantuan enzim sehingga mudah dicerna oleh tubuh.
Sistem pencernaan pada manusia hampir sama dengan sistem pencernaan hewan lain yaitu terdapat mulut, lambung, usus, dan mengeluarkan kotorannya melewati anus. Proses pencernaan pada manusia terbagi atas 5 macam yaitu:

1.1. Injesti

Adalah proses menaruh atau memasukkan makanan di mulut. Biasanya menggunakan tangan atau menggunakan alat bantu seperti sendok, garpu, sumpit, dan lain sebagainya.

1.2. Pencernaan Mekanik

Proses pencernaan mekanik yaitu proses mengubah makanan menjadi kecil dan lembut. Pencernaan mekanik dilakukan oleh gigi dan alat bantu lain seperti batu kerikil pada burung merpati. Proses ini bertujuan untuk membantu untuk mempermudah proses pencernaan kimiawi. Proses ini dilakukan secara sadar atau sesuai dengan keinginan kita.

1.3. Pencernaan Kimiawi

Proses pencernaan kimiawi yaitu proses mengubah molekul-molekul zat makanan yang kompleks menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana sehingga mudah dicerna. Pencernaan kimiawi dilakukan oleh enzim, asam, ‘bile’, dan air. Proses ini dilakukan secara tidak sadar karena yang mengaturnya adalah enzim.

1.4. Penyerapan

Penyerapan adalah gerakan nutrisi dari sistem pencernaan ke sistem sirkulator dan ‘lymphatic capallaries’ melalui osmosis, transport aktif, dan difusi.

1.5. Penyingkiran

Yaitu penyingkiran/pembuangan material yang tidak dicerna dari ‘tract’ pencernaan melalui defekasi.

2. Organ Dalam Sistem Pencernaan Pada Manusia

Organ yang termasuk dalam sistem pencernaan terbagi menjadi dua kelompok. Yaitu:

2.1. Saluran Pencernaan

Saluran pencernaan adalah saluran yang kontinyu berupa tabung yang dikelilingi otot. Saluran pencernaan mencerna makanan, memecah nya menjadi bagian yang lebih kecil dan menyerap bagian tersebut menuju pembuluh darah. Organ-organ yang termasuk di dalam nya adalah : mulut, faring, esofagus, lambung, usus halus serta usus besar. Dari usus besar makanan akan dibuang keluar tubuh melalui anus.

2.2. Organ pencernaan tambahan (aksesoris)

Organ pencernaan tambahan ini berfungsi untuk membantu saluran pencernaan dalam melakukan kerjanya. Gigi dan lidah terdapat dalam rongga mulut, kantung empedu serta kelenjar pencernaan akan dihubungkan kepada saluran pencernaan melalui sebuah saluran. Kelenjar pencernaan tambahan akan memproduksi sekret yang berkontribusi dalam pemecahan bahan makanan. Gigi, lidah, kantung empedu, beberapa kelenjar pencernaan seperti kelenjar ludah, hati dan pankreas.

3. Bagian-Bagian Sistem Pencernaan Pada Manusia

Bagian-Bagian-Sistem-Pencernaan-Pada[1]
  1. Kelenjar ludah
  2. Parotis
  3. Submandibularis (bawah rahang)
  4. Sublingualis (bawah lidah)
  5. Rongga mulut
  6. Amandel
  7. Lidah
  8. Esofagus
  9. Pankreas
  10. Lambung
  11. Saluran pankreas
  12. Hati
  13. Kantung empedu
  14. duodenum
  15. Saluran empedu
  16. Kolon
  17. Kolon transversum
  18. Kolon ascenden
  19. Kolon descenden
  20. Ileum
  21. Sekum
  22. Appendiks/Umbai cacing
  23. Rektum/Poros usus
  24. Anus

4. Proses Pencernaan Makanan Dalam Sistem Pencernaan Pada Manusia

Pertama-tama, pencernaan dilakukan oleh mulut. Disini dilakukan pencernaan mekanik yaitu proses mengunyah makanan menggunakan gigi dan pencernaan kimiawi menggunakan enzim ptialin (amilase). Enzim ptialin berfungsi mengubah makanan dalam mulut yang mengandung zat karbohidrat (amilum) menjadi gula sederhana (maltosa). Maltosa mudah dicerna oleh organ pencernaan selanjutnya. Enzim ptialin bekerja dengan baik pada pH antara 6,8 – 7 dan suhu 37oC.
Makanan selanjutnya dibawa menuju lambung dan melewati kerongkongan. Makanan bisa turun ke lambung karena adanya kontraksi otot-otot di kerongkongan. Di lambung, makanan akan melalui proses pencernaan kimiawi menggunakan zat/enzim sebagai berikut:
  • Renin, berfungsi mengendapkan protein pada susu (kasein) dari air susu (ASI). Hanya dimiliki oleh bayi.
  • Pepsin, berfungsi untuk memecah protein menjadi pepton.
  • HCl (asam klorida), berfungsi untuk mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin. Sebagai disinfektan, serta merangsang pengeluaran hormon sekretin dan kolesistokinin pada usus halus.
  • Lipase, berfungsi untuk memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Namun lipase yang dihasilkan sangat sedikit. 
Setelah makanan diproses di lambung yang membutuhkan waktu sekitar 3 – 4 jam, makanan akan dibawa menuju usus dua belas jari. Pada usus dua belas jari terdapat enzim-enzim berikut yang berasal dari pankreas:
  1. Amilase. Yaitu enzim yang mengubah zat tepung (amilum) menjadi gula lebih sederhana (maltosa).
  2. Lipase. Yaitu enzim yang mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol.
  3. Tripsinogen. Jika belum aktif, maka akan diaktifkan menjadi tripsin, yaitu enzim yang mengubah protein dan pepton menjadi dipeptida dan asam amino yang siap diserap oleh usus halus.
Selain itu, terdapat juga empedu. Empedu dihasilkan oleh hati dan ditampung di dalam kantung empedu. Selanjutnya, empedu dialirkan melalui saluran empedu ke usus dua belas jari. Empedu mengandung garam-garam empedu dan zat warna empedu (bilirubin). Garam empedu berfungsi mengemulsikan lemak. Zat warna empedu berwarna kecoklatan, dan dihasilkan dengan cara merombak sel darah merah yang telah tua di hati. Empedu merupakan hasil ekskresi di dalam hati. Zat warna empedu memberikan ciri warna cokelat pada feses.
Selanjutnya makanan dibawa menuju usus halus. Di dalam usus halus terjadi proses pencernaan kimiawi dengan melibatkan berbagai enzim pencernaan. Karbohidrat dicerna menjadi glukosa. Lemak dicerna menjadi asam lemak dan gliserol, serta protein dicerna menjadi asam amino. Jadi, pada usus dua belas jari, seluruh proses pencernaan karbohidrat, lemak, dan protein diselesaikan. Selanjutnya, proses penyerapan (absorbsi) akan berlangsung di usus kosong dan sebagian besar di usus penyerap. Karbohidrat diserap dalam bentuk glukosa, lemak diserap dalam bentuk asam lemak dan gliserol, dan protein diserap dalam bentuk asam amino. Vitamin dan mineral tidak mengalami pencernaan dan dapat langsung diserap oleh usus halus.
Makanan yang tidak dicerna di usus halus, misalnya selulosa, bersama dengan lendir akan menuju ke usus besar menjadi feses. Di dalam usus besar terdapat bakteri Escherichia coli. Bakteri ini membantu dalam proses pembusukan sisa makanan menjadi feses. Selain membusukkan sisa makanan, bakteri E. coli juga menghasilkan vitamin K. Vitamin K berperan penting dalam proses pembekuan darah. Sisa makanan dalam usus besar masuk banyak mengandung air. Karena tubuh memerlukan air, maka sebagian besar air diserap kembali ke usus besar. Penyerapan kembali air merupakan fungsi penting dari usus besar.
Selanjutnya sisa-sisa makanan akan dibuang melalui anus berupa feses. Proses ini dinamakan defekasi dan dilakukan dengan sadar.

5. Gangguan Pada Sistem Pencernaan Manusia

Gangguan pada sistem pencernaan cukup beragam. Faktor penyebabnya-pun bermacam-macam, di antaranya makanan yang kurang baik dari segi kebersihan dan kesehatan, keseimbangan nutrisi, pola makan yang kurang tepat, adanya infeksi, dan kelainan pada organ pencernaan.
Ada beberapa gangguan atau kelainan yang dapat terjadi pada sistem pencernaan pada manusia. Diantaranya:

5.1. Gastritis

Merupakan suatu peradangan akut atau kronis pada lapisan mukosa (lender) dinding lambung. Penyebabnya ialah penderita memakan yang mengandung kuman penyakit. Kemungkinan juga karena kadar asam klorida (HCL) pada lambung terlalu tinggi.

5.2. Hepatitis

Hepatitis merupakan penyakit yang terjadi akibat infeksi virus pada hati. Virus dapat masuk ke dalam tubuh melalui air atau makanan.

5.3. Diare

Diare terjadi karena adanya iritasi pada selaput dinding usus besar atau kolon. Fases penderita diare berbentuk encer. Penyebabnya adalah penderita memakan makanan yang mengandung bakteri atau kuman. Akibatnya gerakan peristaltic dalam usus tidak terkontrol. Sehingga, laju makanan meningkat dan usus tidak dapat menyerap air. Namun, apabila fases yang dikeluarkan bercampur dengan darah dan nanah, kemudian perut terasa mulas, gejala tersebut menunjuk pada penyakit desentri. Penyebabnya yakni infeksi bakteri Shigella pada dinding usus besar.

5.4. Konstipasi

Konstipasi atau yang sering kita sebut dengan sebutan “sembelit” adalah keadaan yang dialami seseoang dengan gejala fases mengeras sehingga susah dikeluarkan. Sembelit disebabkan oleh adanya penyerapan air pada sisia makanan. Akibatnya, fases kekurangan air dan menjadi keras. Ini terjadi dari kebiasaan buruk yang menunda-nunda buang besar. Selain itu, juga karenakurangnya penderita dalam mengkonsumsi makanan berserat. Oleh karena itu, banyak memakan buah-buahan dan sayur-sayuran berserat serta minum banyak air dapat mencegah gangguan ini.

5.5. Apendisitis

Apendisitis merupakan gangguan yang terjadi karena peradangan apendiks. Penyebabnya ialah adanya infeksi bakteri pada umbai cacing (usus buntu). Akibatnya, timbul rasa nyeri dan sakit.

5.6. Hemeroid/Wasir/Ambeyen

Hemoroid/Wasir/Ambeyen merupakan gangguan pembengkakan pada pembuluh vena disekitar anus. Orang yang sering duduk dalam beraktivitas dan ibu hamil seringkali mengalami gangguan ini.

5.7. Maag

Orang yang mengalami maag memiliki ciri-ciri rasa perih pada dinding lambung, mual, muntah, dan perut kembung. Gangguan ini disebabkan meningkatnya kadar asam lambung yang dipicu karena pikiran tegang, pola makan yang tak teratur, dan lain sebagainya.

5.8. Keracunan

Keracunan makanan dapat terjadi karena pengaruh beberapa bakteri semisal bakteri Salmonela yang menyebabkan penyakit demam tipus dan paratipus.

5.9. Tukak Lambung

Tukak lambung adalah salah satu kelainan sistem pencernaan yakni kerusakan pada selaput lendir. Tukak lambung dapat disebabkan oleh factor-faktor kuman, toksin, ataupun psikosomatis. Kecemasan, ketakutan, stress, dan kelelahan merupakan faktor psikosomatis yang akhirnya dapat merangsang pengeluaran HCL di lambung. Jika HCL berlebihan, selapu lendir lambung akan rusak.

5.10. Malnutrisi (kurang gizi)

Yakni penyakit yang disebabkan oleh terganggunya pembentukan enzim pencernaan. Gangguan tersebut disebabkan oleh sel-sel pancreas atropi yang kehilangan banyak reticulum endoplasma. Sebagai contoh adalah kwashiorkor, yakni penyakit akibat kekurangan protein yang parah dan pada umumnya menyerang anak-anak.
Sumber:
1. Sistem pencernaan makanan pada manusia (gurungeblog.wordpress.com)
2. Sistem pencernaan (id.wikipedia.org)
3. Pencernaan (id.wikipedia.org)
4. Sistem Pencernaan pada Manusia (wandylee.wordpress.com)
5. Ganguan atau Kelainan pada Sistem Pencernaan Manusia (donnarevita-sciencetwo-duablas.blogspot.com
6. http://hedisasrawan.blogspot.com/2012/10/sistem-pencernaan-pada-manusia-materi_25.html